Senin, 01 Oktober 2012

Kebijakan Moneter Dan Kebijakan Fiskal


Langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam kondisi resesi perekonomian:

KEBIJAKAN MONETER
Adalah kebijakan yang dilakukan oleh otoritas moneter (Bank Sentral) untuk mempengaruhi kegiatan ekonomi melalui pengawasan jumlah uang beredar atau suku bunga atau kombinasi keduanya.

Dari segi kebijakan moneter, dalam kondisi resesi perekonomian pemerintah dapat mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
1.       Operasi pasar terbuka
2.       Mengubah suku bunga dan tingkat diskonto
3.       Mengubah cadangan minimal

1.       OPERASI PASAR TERBUKA
1.1. Dalam Kondisi Under Employment :
Kondisi resesi / kelesuan ekonomi / under-employment adalah keadaan perekonomian dimana banyak pengangguran karena faktor produksi dan menurunnya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa.

Agar kegiatan perekonomian dapat meningkat, maka bank sentral perlu menaikkan jumlah uang beredar melalui pembelian surat-surat berharga dari bank – bank umum dan masyarakat.
Jika jumlah uang beredar bertambah banyak, maka permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa juga ikut naik dan selanjutnya akan mendorong kegiatan produksi dalam perekonomian terjadi kenaikan penyerapan tenaga kerja dan kenaikan.


1.2. Dalam Kondisi Inflasi (Over Employment)
Kondisi inflasi/naiknya harga-harga umum dapat terjadi apabila kapasitas produksi telah digunakan secara penuh tapi permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa terus meningkat, sehingga pendapatan nasional aktual lebih besar dari pendapatan nasional full employment.

Untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan menurunkan / mengurangi jumlah uang beredar yang ada dimasyarakat melalui penjualan surat-surat berharga oleh bank sentral kepada bank-bank umum.

Dengan adanya penjualan surat-surat berharga ini maka tabungan giral masyarakat dan cadangan yang dimiliki oleh bank umum akan berkurang yang berarti jumlah uang beredar didalam perekonomian juga berkurang, pada gilirannya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa juga berkurang. Berkurangnya permintaan akan menyebabkan terjadinya penurunan harga barang-barang dan jasa (inflasi berkurang).

2.       MENGUBAH SUKU BUNGA DAN TINGKAT DISKONTO
Ada 2 cara yang dapat  dilakukan oleh bank sentral didalam membantu bank-bank umum, yaitu dengan memberi pinjaman atau dengan membeli surat-surat berharga tertentu yang dimiliki oleh bank umum yang memerlukan bantuan.

Jika bank-bank umum menjual surat-surat berharga kepada bank sentral maka cara ini disebut mendiskontokan surat-surat berharga. Baik dalam memberikan pinjaman maupun dalam membeli surat-surat berharga dari bank-bank umum, bank sentral akan menetapkan tingkat diskonto surat-surat berharga tersebut dan suku bunga pinjaman yang harus dibayar oleh bank-bank umum.

Peranan bank sentral sebagai sumber pinjaman atau tempat mendiskontokan surat-surat berharga dapat digunakan oleh bank sentral untuk mempengaruhi jumlah uang beredar dan tingkat kegiatan ekonomi.

Jika bank sentral menurunkan tingkat diskonto dan suku bunga pinjaman yang diberikan kepada bank-bank umum, maka biaya / bunga yang harus dibayar oleh bank-bank umum menjadi lebih murah. Pada gilirannya bank-bank umum dapat memberikan pinjaman kepada nasabahnya dengan suku bunga yang rendah pula. Jika suku bunga kredit perbankan turun maka permintaan masyarakat terhadap kredit perbankan akan naik dan ini akan menyebabkan bertambahnya jumlah uang beredar yang ada dimasyarakat. Tindakan menaikkan atau menurunkan suku bunga ini disesuaikan dengan kondisi resesi yang sedang terjadi seperti pada point 1 di atas.

3.       MENGUBAH CADANGAN MINIMAL
Bank sentral juga dapat mempengaruhi jumlah uang beredar dengan mengubah ketetapan mengenai tingkat cadangan minimal (reserve requirement) yang harus dimiliki oleh bank-bank umum. Jika bank sentral ingin mengurangi jumlah uang beredar, maka bank sentral akan mewajibkan bank-bank umum untuk menaikan tingkat cadangan minimalnya, dan meningkatnya cadangan minimal ini akan dapat mengurangi tabungan giral pada bank-bank umum tersebut, dan dengan sendirinya akan menurunkan jumlah uang beredar, begitu juga sebaliknya.

KEBIJAKAN FISKAL
Adalah kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi perekonomian melalui pengeluaran (spending) dan perpajakan (taxation) atau kombinasi keduanya
Secara garis besar, kebijakan fiskal dibedakan sebagai berikut:
1.    Kebijakan Fiskal Defisit atau Ekspansif
Adalah kebijakan fiskal dimana pengeluaran pemerintah melebihi penerimaannya.

2.    Kebijakan Fiskal Surplus atau Kontraktif
Adalah kebijakan fiskal dimana pengeluaran pemerintah lebih kecil dari penerimaannya.
3.    Kebijakan Fiskal Berimbang
Adalah kebijakan fiskal dimana pengeluaran pemerintah sama / seimbang dengan penerimaannya.

Kebijakan Fiskal ditentukan  berdasarkan kondisi resesi yang sedang terjadi:
1.    Perekonomian dalam kondisi under employment.
Jika perekonomian dalam kondisi under employment (resesi) yang berarti dalam perekonomian banyak faktor produksi yang menganggur, permintaan masyarakat terhadap barang-barang dan jasa mengalami kelesuan.

Untuk mengatasinya, Pemerintah dapat mengambil kebijakan fiskal defisit melalui kenaikan anggaran belanja pemerintah atau pengurangan pajak, atau kombinasi keduanya.
Jika anggaran belanja pemerintah (G) dinaikan maka pendapatan nasional yang ada juga akan ikut mengalami kenaikan, sebab Y = C + l + G + NX.

Bila yang dilakukan pemerintah adalah pengurangan pajak, maka pendapatan disposable masyarakat akan naik. Kenaikan pendapatan tersebut akan mendorong naiknya pengeluaran konsumsi yang selanjutnya akan menaikan tingkat pendapatan nasional.

2.       Perekonomian dalam kondisi over employment

Kondisi perekonomian yang over employment menunjukan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa terus meningkat meskipun perusahaan sudah beroperasi pada kapasitas penuh dan para pekerja / buruh telah bekerja lembur. Adanya kelebihan permintaan yang melampaui kapasitas perekonomian untuk melayaninya akan mengakibatkan terjadinya inflasi dalam perekonomian. Untuk mengatasi masalah tersebut kebijakan fiskal yang dapat digunakan oleh pemerintah adalah kebijakan fiskal surplus. Dengan mengurangi anggaran belanja pemerintah, pendapatan nasional akan menurun dan pada gilirannya daya beli masyarakat juga berkurang sehingga inflasi bisa ditekan.

7 komentar:

  1. thanks atas postingannya :)
    sangat bermanfaat :D

    BalasHapus
  2. thanks banyak, sangat bermanfaat

    BalasHapus
  3. Thanks yaa... atas postingannya
    Sangat bermanfaat

    BalasHapus
  4. thankssss........
    kunjungi blog it :
    http://theodorus-tkjcomunity.blogspot.com

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Makasih postingannya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  7. postingsnnys sangat membantu terima kasih

    BalasHapus